Tampilkan postingan dengan label QH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label QH. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Agustus 2020

Al-Qur'an Hadits

 


Pengertian, Tujuan, Fungsi, Urgensi, dan Ruang Lingkup Pemb. Al-Qur'an Hadits

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Seiring pesatnya perkembangan zaman terutama dalam bidang teknologi banyak peserta didik lupa akan Alqur’an dan Hadits, berbagai upaya pendidik untuk memperkenalkan Al-Qur’an dan Hadits sejak dini menjadi hal yang sangat penting. Pembelajaran Al-Qur’an dan Hadits diarahkan untuk menumbuh- kembangkan pengetahuan peserta didik terhadap Al-Qur’an dan Hadits, sehingga memperoleh pengetahuan mengenai keduanya dengan baik dan benar.

Pembelajaran Al-Qur’an dan hadits di Madrasah Ibtidaiyah, menekankan proses kegiatan belajar yang berorientasi pada kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang Muslim terhadap kedua sumber ajaran tersebut. Di antaranya adalah kemampuan dalam membaca, menulis, mengahafal, mengartikan, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an dan hadits. Untuk dapat memenuhi target pembelajaran bagi siswa MI tersebut, seorang guru tentunya harus mempersiapkan pendekatan pendekatan pembelajaran yang akan digunakan dalam menyampaikan materinya. Selain itu, seorang pendidik yang baik juga dituntut untuk mem- persiapkan sumber belajar dan media pembelajarannya dengan baik demi tercapainya tujuan pembelajaran yang akan disampaikan.

B.     Rumusan Masalah

1.      Apakah pengertian dari pembelajaran Al-Qur’an Hadits?

2.      Apakah tujuan dari pembelajaran Al-Qur’an Hadits?

3.      Apakah fungsi dari pembelajaran Al-Qur’an Hadits?

4.      Bagaimanakah ruang lingkup dari pembelajaran Al-Qur’an Hadits?

5.      Bagaimanakah urgensi pembelajaran Al-Qur’an Hadits bagi siswa MI?

C.    Tujuan Penulisan Makalah

1.      Untuk mengetahui pengertian dari pembelajaran Al-Qur’an Hadits.

2.      Untuk mengetahui tujuan dari pembelajaran Al-Qur’an Hadits.

3.      Untuk mengetahui fungsi dari pembelajaran Al-Qur’an Hadits.

4.      Untuk mengetahui ruang lingkup pembelajaran Al-Qur’an Hadits.

5.      Untuk mengatahui urgensi pembelajaran Al-Qur’an Hadits bagi siswa MI.


BAB II

PEMBAHASAN


A.    Pengertian Pembelajaran Al-Qur’an Hadits

Kata pembelajaran merupakan perpaduan dari dua aktivitas yaitu, belajar dan mengajar. Aktivitas belajar secara metodologis cenderung lebih dominan pada siswa, sementara cara mengajar secara instruksional dilakukan oleh guru. Jadi istilah pembelajaran adalah ringkasan dari kata belajar dan mengajar.[1]

Pengertian dari Al–Qur’an adalah kalam Allah yang bernilai mukjizat, yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW, dengan perantara malaikan jibril a.s yang di dalamnya berisi pedoman hidup bagi manusia.

Menurut Dr. Subhi Ash-Shalih, Al-Quran merupakan kalam Allah Swt yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada nabi Muhammad dan di tulis di mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir, membacanya termasuk ibadah.[2]

Sedangkan kata hadits merupakan isim (kata benda) yang secara bahasa berarti kisah, cerita, pembicaraan, percakapan atau komunikasi baik verbal maupun lewat tulisan. Bentuk jamak dari hadits yang lebih populer di kalangan ulama muhadditsin adalah ahadits,  dibandingkan bentuk lainnya yaitu hutsdan atau hitsdan.[3] Dan yang dikatakan Hadist adalah sesuatu yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, baik itu perbuatan, perkataan, perilaku dan lain sebagainya tentang Rasulullah untuk menjelaskan kandungan Al-Qur’an.[4]

Dari 3 pengertian di atas, dapat di simpulkan bahwa Pembelajaran Al-Qur’an Hadits adalah proses belajar mengajar mengenai bagaimana memahami dan menjelaskan makna dari Al-Qur’an Hadits serta mengeluarkan hukum – hukum yang terdapat di dalamnya, agar kita tidak salah dalam melaksanakan apa saja perintah dan larangan yang ada di dalam kedua pusaka tersebut.


B.     Tujuan Pembelajaran Al-Qur’an Hadits

Tujuan  pembelajaran  adalah  suatu  pernyataan  yang  spesifik yang dinyatakan dalam perilaku atau penampilan yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang diharapkan.[5]

Dalam klasifikasi tujuan pendidikan, tujuan pembelajaran atau yang disebut juga dengan tujuan intruksional, merupakan tujuan yang paling khusus. Tujuan pembelajaran menjadi bagian tujuan kulikuler, didefinisikan sebagai kemamuan yang harus dimiliki oleh peserta didik setelah mereka  mempelajari bahasan tertentu dalam bidang studi tertentu dalam satukali pertemuan, misalnya pelajaran surat Al-Fatihah dalam mata pelajaran Al-Qur’an Hadits.

Pembelajaran Al-Qur’an Hadits adalah bagian dari upaya untuk mempersiapkan sejak dini agar siswa memahami, terampil melaksanakan dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an Hadist melalui kegiatan pendidikan. Tujuan pembelajaran Al-Qur’an Hadits di madrasah ibtidaiyah adalah agar murid mampu membaca, menulis,   menghafal, mengartikan , memahami, dan terampil melaksanakan isi kadungan al-qur’an hadits dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi orang yang berimandan bertakwa kepada allah  swt. Inti ketakwaan  itu ialah berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pembelajaran Al-Qur’an Hadits di MI memiliki 3 tujuan penting, yaitu :

1.      Pengetahuan (knowing), dimana anak mengetahui setiap materi yang berkaitan dengan Al-Qur’an dan Hadits.

2.      Pelaksanaan (doing), dimana anak mampu melaksanakan dan mengajarkan apa yang ia ketahui di dalam kehidupannya.

3.      Pembiasaan (being), dimana anak mampu membiasakan apa yang telah ia laksanakan di dalam kehidupan sehari – harinya hingga menjadi suatu kebutuhan yang tidak bisa ia tinggalkan.[6]

Secara substansial mata pelajaran Al-Qur’an Hadits memiliki kontribusi dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mencintai kitab sucinya, mempelajari dan mempraktikkan ajaran dan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an Hadits sebagai sumber utama ajaran Islam dan sekaligus menjadi pegangan dan pedoman hidup dalam kehidupan sehari-hari. Mata pelajaran Al-Qur’an Hadits di Madrasah Ibtidaiyah bertujuan untuk:

1.      Memberikan kemampuan dasar kepada peserta didik dalam membaca, menulis, membiasakan dan menggemari membaca Al-Qur’an Hadits.

2.      Memberikan pengertian, pemahaman, penghayatan isi kandungan ayat-ayat Al-Qur’an Hadits melalui keteladanan dan pembiasaan.

3.      Membina dan membimbing perilaku peserta didik dengan berpedoman pada kandungan ayat Al-Qur’an dan Hadits.[7]

Dalam proses mengartikan Al-Qur’an Hadits anak juga harus di beri bekal sejak dini tentang cara memahaminya, agar anak tidak salah dalam menangkap pemahaman mengenai arti Al-Qur’an Hadityang telah ia pelajari. Sedikit saja salah pemahan akan berakibat fatal bagi anak.

Memahami isi kandungan Al-Qur’an Hadits menjadi keterampilan sangat bagus yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Dengan mampu memahaminya maka akan memudahkan seseorang untuk mewujudkannya dalam alamiah praktis. Sehingga, jika proses memahami isi kandungan Al-Qur’an Hadits ini dimulai sejak dini di sekolah dasar , maka pengetahuannya tentang tatacara memahami isi kandungan Al-Qur’an Hadits akan lebih berkualitas begitu pula dalam melaksanakan isinya.

Tujuan pembelajaran Al-Qur’an Hadits adalah sesuatu yang hendak dicapai setelah kegiatan pembelajaran Al-Qur’an Hadits, atau dengan kata lain tercapainya perubahan perilaku pada siswa yang sesuai dengan kompetensi dasar setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. Tujuan tersebut dirumuskan dalam bentuk pernyataan atau deskripsi yang spesifik dan diwujudkan dalam bentuk prilaku atau penampilan sebagai gambaran hasil belajar.

Tujuan pembelajaran Al-Qur’an Hadits pada dasarnya merupakan rumusan bentuk-bentuk tingkah laku yang akan dimiliki siswa setelah melakukan proses pembelajaran. Rumusan tujuan tersebut dirumuskan berdasarkan analisis terhadap berbagai tuntutan, kebutuhan, dan harapan. Oleh karena itu, tujuan dibuat berdasarkan pertimbangan faktor-faktor masyarakat, siswa itu sendiri, serta ilmu pengetahuan (budaya). Dengan demikian, perumusan tujuan pembelajaran Qur’an Hadith harus didasarkan pada harapan tentang sesuatu yang diharapkan dari hasil proses kegiatan pembelajaran.[8]

C.    Fungsi Pembelajaran Al-Qur’an Hadits

Mata pelajaran Al Qur’an Hadits pada Madrasah Ibtidaiyah berfungsi:

1.      Menumbuhkembangkan kemampuan peserta didik membaca dan menulis Al Qur’an Hadist

2.      Mendorong, membimbing dan membina kemampuan dan kegemaran untuk membaca Al Qur’an dan Hadist

3.      Menanamkan pengertian, pemahaman, penghayatan dan pengamalan kandungan ayat – ayat Al Qur’an dan Hadist dalam perilaku peserta didik sehari – hari

4.      Memberikan bekal pengetahuan untuk mengikuti pendidikan pada jenjang yang setingkat lebih tinggi ( MTs ).[9]

Dengan kata lain pembelajaran Al Qur’an Hadits di Madrasah Ibtidaiyah berfungsi untuk memberikan kemampuan dasar kepada peserta didik dalam membaca, menulis, membiasakan dan menggemari Al Qur’an dan Hadits serta menanamkan pengertian, pemahaman, penghayatan isi kandungan ayat-ayat Al Qur’an Hadits untuk mendorong, membina dan membimbing akhlaq dan perilaku peserta didik agar berpedoman kepada dan sesuai dengan isi kandungan ayat – ayat Al Qur’an dan Hadits.

D.    Ruang Lingkup Pembelajaran Al-Qur’an Hadits

Ruang Lingkup Mata Pelajaran AL-Qur’an Hadits  Menurut Permenag no. 20 tahun 2008, ruang lingkup mata pelajaran Al-Qur’an Hadits di Madrasah Ibtidaiyah meliputi:

Pengetahuan dasar membaca dan menulis Al-Qur’an yang benar sesuai dengan kaidah ilmu tajwid.

Hafalan surat–surat pendek dalam Al-Qur’an dan pemahaman sederhana tentang arti dan makna kandungannya, serta pengalamannya melalui keteladanan dan pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

Pemahaman dan pengalaman melalui keteladanan dan pembiasaan mengenai hadits – hadits yang berkaitan dengan keutamaan membaca Al-Qur’an, kebersihan, niat, menghormati orang tua, persaudaraan, silaturrahim, taqwa, menyayangi anak yatim, shalat berjamaah, ciri – ciri orang munafik dan amal shaleh.[10]

E.     Urgensi Pembelajaran Al-Qur’an Hadits bagi Siswa MI

Urgensi pembelajaran Al-Qur’an Hadits pada peserta didik yaitu:

1.      Pemahaman, yaitu menyampaikan ilmu pengetahuan cara membaca dan menulis Al-Qur’an serta kandungan Al-Qur’an dan Hadits.

2.      Sumber nilai, yaitu memberikan pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

3.      Sumber motivasi, yaitu memberikan dorongan untuk meningkatkan kualitas hidup beragama, bermasyarakat dan bernegara.

4.      Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan peserta didik dalam meyakini kebenaran ajaran AgamaIslam, melanjutkan upaya yang telah dilaksanakan dalam lingkungan keluarga maupun jenjang pendidikan sebelumnya.

5.      Perbaikan, yaitu memperbaiki kesalahan-kesalahan dalam keyakinan, pemahaman dan pengalaman ajaran Islam peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

6.      Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungan atau budaya lain yang dapat membahayakan diri peserta didik dan menghambat perkembangannya menuju manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt.

7.      Pembiasaan, yaitu menyampaikan pengetahuan, pendidikan dan penanaman nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadits para peserta didik sebagai petunjuk dan pedoman dalam seluruh kehidupannya.[11]


BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Pembelajaran Al-Qur’an Hadits adalah proses belajar mengajar mengenai bagaimana memahami dan menjelaskan makna dari Al-Qur’an Hadits serta mengeluarkan hukum – hukum yang terdapat di dalamnya, agar kita tidak salah dalam melaksanakan apa saja perintah dan larangan yang ada di dalam kedua pusaka tersebut.

Tujuan pembelajaran Al-Qur’an Hadits di madrasah ibtidaiyah adalah agar murid mampu membaca, menulis,   menghafal, mengartikan , memahami, dan terampil melaksanakan isi kadungan al-qur’an hadits dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi orang yang berimandan bertakwa kepada allah  swt. Inti ketakwaan  itu ialah berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pembelajaran Al Qur’an Hadits di Madrasah Ibtidaiyah berfungsi untuk memberikan kemampuan dasar kepada peserta didik dalam membaca, menulis, membiasakan dan menggemari Al Qur’an dan Hadits serta menanamkan pengertian, pemahaman, penghayatan isi kandungan ayat-ayat Al Qur’an Hadits untuk mendorong, membina dan membimbing akhlaq dan perilaku peserta didik agar berpedoman kepada dan sesuai dengan isi kandungan ayat – ayat Al Qur’an dan Hadits.

DAFTAR PUSTAKA

  • Ash-Shabuni, Syekh Muhammad Ali. 2001. Ikhtisar Ulumul Qur’an Praktis. Jakarta: Pustaka Bumi.
  • Googleweblight.com/?lite_url=http://islamiceducation001.blogspot.com
  • Hamzah, B.Uno. 2009. Perencanaan Pembelajaran, Cet. V. Jakarta: Bumi Aksara.
  • http://misbahbdv.blogspot.co.id/2015/04/memahami-pembelajaran-al-quran-hadits.html
  • http://www.slideshare.net/HazanaItriya/alquran-hadits-misd
  • https://galaxyaceh.wordpress.com/2012/12/30/implementasi-pembelajaran-al-quran-hadist/
  • Musthafa, Aris . 2008. Qur’an Hadis. Sragen: Akik Pusaka
  • Shiddieqy, M. Hasbi Ash . 1991. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits. Jakarta: Bulan Bintang.
  • Susanto, Ahmad. 2013.  Teori belajar dan pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana
  • Tim Bina Karya. 2009.  Bina Belajar Al-Qur’an Hadits untuk Madrasah Ibtidaiyah Kelas IV. Jakarta: Erlangga.
  • www.abdimadrasah.com/2014/04/tujuan-dan-ruang-lingkup-mata-pelajaran-quran-hadits.html
  • [1] Ahmad Susanto, Teori belajar dan pembelajaran di Sekolah Dasar, (Jakarta: Kencana, 2013), hlm.18-19
  • [2] Aris Musthafa, Qur’an Hadis, (Sragen : Akik Pusaka, 2008), hlm. 3
  • [3] M. Hasbi Ash Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, (Jakarta: Bulan Bintang, 1991), hlm.20.
  • [4] Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ikhtisar Ulumul Qur;an Praktis, (Jakarta: Pustaka Bumi, 2001), hlm. 3
  • [5] B.Uno, Hamzah, Perencanaan Pembelajaran, Cet. V, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hlm. 35.
  • [6] http://misbahbdv.blogspot.co.id/2015/04/memahami-pembelajaran-al-quran-hadits.html
  • [7] www.abdimadrasah.com/2014/04/tujuan-dan-ruang-lingkup-mata-pelajaran-quran-hadits.html
  • [8] https://galaxyaceh.wordpress.com/2012/12/30/implementasi-pembelajaran-al-quran-hadist/
  • [9] http://www.slideshare.net/HazanaItriya/alquran-hadits-misd
  • [10] Tim Bina Karya, Bina Belajar Al-Qur’an Hadits untuk Madrasah Ibtidaiyah Kelas IV, (Jakarta: Erlangga, 2009), hlm. 15.
  • [11] Googleweblight.com/?lite_url=http://islamiceducation001.blogspot.com


Selasa, 11 Agustus 2020

BAHAN AJAR AL-QUR'AN HADIS KELAS VII SEMESTER 1


BAHAN AJAR AL-QUR'AN HADIS KELAS VII SEMESTER 1


Pengertian Al-Qur’an

Al-Qur’an berasal dari bahasa arab قرا- ىقرا- قراءن- وقرانا yang berarti bacaan. Sebagaian ulama’ menyebutkan bahwa kata alqur’an adalah masdar yang di artikan dengan isim maf’ul, yakni maqru’ artinya sesuatu yang dibaca. Maksudnya, Al-Qur’an itu adalah bacaan yang di baca. Secara istilah, Al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, secara berangsur-angsur melalui Malaikat Jibril dan membaca adalah ibadah.

Al-Qur’an adalah sumber hukum islam yang pertama. Sebagai sumber hokum yang pertama dan pedoman hiduo manusia, Al-Qur’an memiliki beberapa keistimewaan dan kelebihan dibanding kitab-kitab suci lainnya, diantaranya:

Al-Qur’an memuat kalam-kalam Allah yang menjadi peoman hidup manusia sepanjang masa.

Al-Qur’an adalah sumber ilmu pengetahuan sehingga seluruh fenomena yang terjadi di alam semesta tidak akan pernah berlawanan dengan apa yang Allah swt, ciptakan.

Al-Qur’an diturunkan oleh Allah swt dengan suatu gaya bahasa yang istimewa, mudah, tidak sulit bagi siapa pun untuk memahaminya dan tidak sulit pula mengamalkannya, jika disertai dengan keikhlasan hati dan kemauan yang kuat.

Nama-Nama Al-Qur’an

Di dalam al-Qur’an terdapat banyak nama-nama al-Qur’an. Dibalik nama itu kita akan memahami fungsi al-Qur’an.

Al-Qur’an

Nama yang paling _aka da adalah al-Qur’an itu sendiri, Allah menyebutkannya 58 kali. Penyebutan berulang-ulang itu menjadi peringatan bagi kita agar Al-Qur’an selain bacaan juga merupakan petunjuk dalam hidup.

Al-Kitab

Artinya, wahyu yang tertulis. Menurut Syaikh Abdullah ad Diros, penamaan dengan al-Kitab menunjukkan bahwa al-Qur’an tertulis dalam mushaf dan hendaknya melekat di dalam hati. Rasulullah bersabda: “Orang yang di dalam hatinya tidak ada sedikitpun al-Qur’an, bagaikan rumah yang rusak” (al-Hadist).

Al-Huda

Artinya, Sebagai petunjuk (al-Huda) merupakan fungsi utama dari diturunkannya al-Qur’an. Kita tidak dapat menjadikan al-Qur’an sebagai petunjuk jika kita tidak membaca dan memahaminya, serta mengamalkannya dengan baik.

Rahmah

Berarti rahmat, terutama bagi orang-orang yang beriman.

Nur

Berarti cahaya penerang. Konsekuensi dari pemahaman ini adalah dengan menjadikan al-Qur’an sebagai cahaya yang menerangi jalan hidup kita. Kita melihat tuntunan al-Qur’an, kemudian melangkah dengan tuntunan itu.

Ruh

Berarti ruh sebagai penggerak. Ruh menggerakkan jasad manusia. Dengan nama ini Allah SWT ingin agar al-Qur’an dapat menggerakkan langkah dan kiprah manusia. Terutama perannya untuk memberikan peringatan kepada seluruh manusia bahwa tidak ada Ilah selain Allah

Syifa’

Berarti obat. Al-Qur’an merupakan obat penyakit hati dari kebodohan, musyrik, kekafiran dan munafik.

Al-Haq

Berarti kebenaran.

Bayan

Berarti penjelasan atau penerangan.

Mauizhoh

Berarti pelajaran dan nasehat.

Dzikr

Berarti yang mengingatkan.

Naba’

Berarti berita. Di dalam al-Qur’an memuat berita-berita umat terdahulu dan umat yang akan _aka d.

Fungsi Al-Qur’an

Al-Qur’an sebagai kitab suci terakhir yang diturunkan Allah memiliki fungsi, sebagai berikut.

pedoman hidup manusia

Kehidupan manusia penuh dengan sebagai persoalan, dari persoalan yang paling ringan sampai yang paling berat. Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia. Al-Qur’an merupakan pedoman sekaligus menjadi dasar hukum bagi manusia dalam mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Pada zaman Rasulullah saw. Semua persoalan dapat di selesaikan langsung. Jika ada persoalan, maka Allah memberi petunjuk melalui wahyu. Setelah Rasulullah tiada, manusia perlu pedoman agar kehidupan terarah. Wahyu-wahyu Allah yang di himpun dalam sebuah kitab yang bernama Al-Qur’an tersebut menjadi pedoman yang lengkap bagi manusia dalam menjalin hubungan dengan Allah swt, _aka d manusia, dadengan alam lingkungannya. Di dalam Al-Qur’an, terdapat penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk serta pembeda (antara yang hak dan yang batil). Firman Allah dalam Surah Al-Jasiyah ayat 20:

هَذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Artinya: “(Al-Qur’an) ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini” (Q.S Al-Jasiyah 20)

Sebagai pembenar kitab-kitab terdahulu

Salah satu tujuan diturunkannya Al-Qur’an selain mengoreksi kitab-kitab terdahulu dari tangan-tangan orang yang merubahnya, juga sebagai pembenar bahwa kitab-kitab terdahulu juga berasal dari Allah swt. Allah swt Berfirman dalam surat Ali ‘Imran ayat 3:

Artinya: “dia menurunkan kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad) yang mengandung kebenaran, membenarkan (kitab-kitab) sebelumnya, dan menurunkan Taurat dan Injil”.(Q.S Ali ‘Imran 3).

Sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan

Al-Qur’an membawa berita gembira dan peringatan bagi orang-orang yang mengingkarinya. Di samping itu, Al’Qur’an menjelaskan kriteria-kriteria golongan yang memperoleh berita gembira dan yang mendapatkan ancaman dan peringatan. Allah swt berfirman dalam surah Al-A’raf ayat 188:.

Artinya : Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan Sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”.

Sebagai sumber pokok ajaran islam

Al-Qur’an merupakan sumber pokok ajaran islam yang pertama. Di dalamnya terdapat keterangan-keterangan yang dibutuhkan oleh manusia untuk mengolah alam semesta ini. Bahkan, sumber pokok tersebut tidak hanya mengantarkan manusia untuk bahagia di dunia tapi juga bahagia di akhirat.

Allah berfirman dalam Surah Yunus ayat 37 :

Artinya : “Tidaklah mungkin Al Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Quran itu) membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.”

Pengertian Hadits

Hadits adalah segala perkataan, perbuatan, ketetapan dan persetujuan (takrir) dari Nabi Muhammad saw, yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama islam. Secara bahasa hadits berasal dari kata “hadasa” yang berarti baru. Hadits juga berarti “khabar” artinya berita. Istilah lain yang identik dengan hadits adalah sunnah, namun beberapa ulama’ membedakan pengertian keduanya.

Pengertian sunnah inilah yang identik dengan hadits. Meskipun beberapa ulama’ membedakan bahwa hadits adalah segala sesuatu yang dinukil dari Rosulullah saw, sedangkan sunnah adalah amalan-amalan yang dilakukan Rosulullah saw dan para sahabatnya yaitu kehidupan yang hidup dimasa beliau.

Hadits sebagai sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an. Setiap ummat islam wajib mengakui dan mengikuti petunjuk yang ada dalam hadits. Mengikuti hadits Rasulullah saw berarti menaati Allah dan rosul-Nya. Firman Allah swt :

Artinya: “….apa yang di berikan rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (Q.S Al-Hasyr 7)

Ayat tersebut memberi petunjuk secara umun yakni semua perintah dan larangan yang berasal dari Nabi Muhammad saw. Wajib di patuhi oleh orang-orang yang beriman. Dengan demikian ayat ini mempertegas posisi hadits sebagai sumber ajaran islam. Oleh karena itu kewajiban patuh kepada Rasulullah saw, merupakan penerapan keimanan seseorang. Firman Allah swt :

Artinya: “Barang siapa yang mengikuti Rasul maka sesungguhnya ia telah menaati Allah…..”. (Q.S An-Nisa’ 80)

Taat kepada Allah swt dan Rasulullah saw akan selalu mendapat petunjuk dari Allah swt. Rasulullah saw bersabda :

قل رسول ا لله صلي عليه وسلم : تركت فيكم ا مرين لن تضلوا ابداماان تمسكتم بهما كتا ب ا لله وسنة رسوله (رواه مسلم)

Artinya: Rasulullah saw bersabda: “Aku tinggalkan dua perkara untukmu sekalian, dan kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, selama kalian selalu berpegang teguh kepada keduanya, yaitu kitab Allah dan sunnah rosul-Nya.” (H.R. Muslim)

Fungsi Hadits

Hadits memiliki beberapa fungsi, seperti :

  • menguatkan dan menegaskan hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an, hujjah yaitu argumentasi yang bersifat naqliyah, setelah Al-Qur’an, bayan yakini menjelaskan kandungan Al-Qur’an yang masih bersifat global atau blum terperinci, dan manhaj, yaitu pedoman amaliyah bagi kaum muslimin.
  • Fungsi hadits Nabi Muhammad saw sebagai bayan adalah untuk menjelaskan isi kandungan Al-Qur’an. Dalam kedudukannya sebagai bayan (penjelas) Al-Qur’an, hadits memiliki fungsi sebagai berikut:
  • Menguatkan dan menjelaskan hukum-hukum yang tersebut dalam Al-Qur’an yang di kenal dengan istilah fungsi ta’kid, yaitu memperkuat sesuatu yang telah ditetapkan oleh Al-Qur’an.
  • Memberikan penjelasan (bayan) terhadap apa yang dimaksud dalam Al-Qur’an dalam hal :
  • Menjelaskan arti yang masih _ocial_tau ijmal seperti kata salat, karena dapat saja salat itu berarti do’a sebagaimana dipakai secara umum pada waktu itu. Kemudian Nabi saw, melakukan serangkaian perbuatan yang terdiri dari ucapan dan perbuatan dalam rangka menjelaskan apa yang dimaksud salat pada ayat tersebut.
  • Merinci apa-apa yang dalam Al-Qur’an disebutkan secara garis besar misalnya, menentukan waktu-waktu salat yang disebutkan dalam Al-Qur’an.
  • Membatasi apa-apa yang dalam Al-Qur’an disebutkan secara umum, misalnya hak kewarisan anak laki-laki dan anak perempuan.
  • Menetapkan sesuatu hukum dalam hadits yang secara jelas tidak ada dalam Al-Qur’an